Saturday, 19 May 2012  Home | Blog | ngedib.com | depirianto
 
 

Eksploitasi Wanita dalam Dunia Periklanan

Written by Winda Fitriyanni
Thursday, 19 June 2008 Perkembangan dunia periklanan pada masa sekarang ini kian pesat dan membuat masyarakat seperti "mabuk" akan maraknya iklan yang bermunculan tanpa henti. Banyak sekali iklan yang dibuat dengan berbagai macam ide. Ironisnya, tidak sedikit juga iklan yang diproduksi dengan tidak memperhatikan norma-norma kesusilaan ataupun moral dan etika. Hal ini akan membawa pengaruh yang akan menimbulkan pro dan kontra terhadap suatu iklan di dalam masyarakat. Seperti yang terjadi dalam dunia periklanan, baik di dalam ataupun luar negeri, dimana wanita dijadikan objek periklanan yang seringkali membuat berbagai pihak berpikiran negatif tentang wanita.

Dalam dunia periklanan memang ada kalanya seorang wanita dijadikan objek iklan yang memang terkait dengan materi iklan, tetapi banyak pula yang menjadikan wanita hanya sebagai "objek tempelan" semata. Artinya, tanpa objek seorang wanita pun sebenarnya iklan tersebut telah "berbicara" atau sudah dapat menyampaikan tujuannya dan dapat dimengerti khalayak. Maka dari itu, dalam kasus-kasus seperti itu wanita dalam iklan tersebut terkesan hanya dieksploitasi demi "keindahan" iklan semata. Para pelaku periklanan banyak yang berpendapat bahwa wanita dengan segala keindahan biologisnya amat bermanfaat bagi kesan dan daya tarik suatu iklan. Wanita yang cantik akan menjadi identitas dari kualitas, mutu, dan kesan mewah pada suatu produk yang ditawarkan. Semakin terkenal dan popular wanita yang ditampilkan pada suatu iklan, maka semakin tinggi pula kualitas, mutu, kesan mewah akan suatu produk.

Salah satu contoh iklan yang dianggap merendahkan martabat wanita yang sedang banyak dibicarakan orang adalah iklan salah satu produk provider telfon GSM. Pada iklannya ditampilkan seorang wanita bertubuh seksi mengenakan kaos ketat yang bertuliskan angka 1 yang terletak di bagian dada dan pada iklan tersebut terlihat mengekspose bagian tersebut.

Pada iklan-iklan Bank juga tak jarang wanita lah yang dipasang sebagai objek iklannya. Hal ini mungkin dikarenakan karena adanya stereotype bahwa wanita mempunyai pola konsumerisme yang tinggi, sehingga wanita selalu beranggapan "money oriented". Untuk itulah iklan-iklan Bank yang tentu saja Bank sangat dekat kaitannya dengan uang, banyak memakai wanita sebagai objeknya. Pada iklan-iklan credit card banyak yang menampilkan sosok wanita dengan kantong-kantong belanjaan. Ini bisa diartikan bahwa wanita mempunyai pola konsumerisme yang tinggi dan membutuhkan kartu kredit. Padahal, banyak juga pria yang mempunyai pola konsumerisme yang sama tingginya dengan wanita. Di salah satu iklan cetak sebuah bank swasta nasional digambarkan pula wanita yang berdiri di tengah-tengah timbunan uang. Hal ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa wanita mempunyai sifat matrealistis atau "mata duitan". Pandangan seperti itulah yang merugikan kaum wanita.

Sebagai cara untuk mengatasi permasalahan yang menimbulkan kontra dari berbagai pihak ini, terutama dari pihak wanita sendiri, maka hal pertama yang harus dikembangkan adalah adanya kesadaran pada diri para pembuat iklan sendiri. Para pembuat iklan dapat membuat iklan memperhatikan etika dan sopan santun juga tidak merendahkan SARA, dalam hal ini khususnya wanita. Para pelaku iklan hendaknya menghargai kaum wanita sebagaimana mestinya, bukannya malah hanya memanfaatkan wanita karena keindahan biologisnya saja yang malah akan memperburuk stereotype kaum wanita. Terlepas dari apakah mereka menyadari akan adanya kontra atau keberatan dari pihak-pihak tertentu, sudah seharusnya wanita tidak dijadikan "objek tempelan" pada iklan-iklan agar adanya persepsi pengeksploitasian wanita pada dunia periklanan dapat segera dihilangkan.