Saturday, 19 May 2012  Home | Blog | ngedib.com | depirianto
 
 

Pentingnya Sebuah "Identitas"

Written by Bambang Nopianto
Friday, 02 May 2008 Hari sabtu siang sambil menikmati hari libur, saya iseng jalan-jalan di sebuah mall dengan ditemani pacar, dan memanjakan diri dengan makanan-makanan yang menggugah selera, dan saya menyempatkan diri untuk mengujungi klien yang kebenaran tokonya buka di mall tersebut. Tapi setelah saya pikir lagi saya putuskan untuk mencari makananan lain saja.

Setelah merenung akhirnya saya memutuskan untuk makan di area Food court. Disana saya melihat ada sesuatu yang sangat menarik, dan saat itu saya ingin sekali makan Mie Hot Plate jadi saya memutuskan untuk mencari tempat yang menjualnya. Setelah melihat sekeliling akhirnya ketemu, tetapi saya harus masuk antrian baris yang cukup panjang untuk mendapatkan menu yang saya inginkan. Sudah bisa ditebak tentunya apa yang saya lakukan, keluar dan mencari tempat yang lain, karena saya tidak tega membiarkan perut saya menuggu terlalu lama. (tapi pacar saya tetap memesan Mie Hot Plate di toko tersebut).
Dua toko di sebelahnya saya melihat toko Mie X dan saya pun memutuskan untuk membeli makanan disana. Namun saya sangat terkejut begitu melihat menu yang ditawarkan, hampir sama persis dengan toko yang pertama dan yang membuat saya lebih terkejut lagi yang membeli ternyata berbanding terbalik sekali, kalo di toko yang pertama kita harus ngantri dan di Mie X tidak perlu sama sekali, karena pas saya lagi beli disitu tidak sedang melayani pesanan.

Setelah memesan mie X saya pun duduk dan menikmati mie tersebut dan ternyata rasanya enak sekali, saya jadi melamun kok bisa sepi ya, akhirnya saya menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan dan perenungan sesaat.

Dan inilah hasil THINKnya, yang pertama warna dari design toko tersebut sangat-sangat tidak menarik dan cenderung kaku, dalam buku 22 Immutable Law of Branding karangan Al Ries dan Laura Ries, warna putih yang menjadi background Mie X jelas-jelas menyalahi prinsip hukum branding yang ke 17 yaitu hukum warna. Al Ries mengatakan bahwa suatu merek harus menggunakan warna merek yang berlawanan dengan merek pesaing. Sederhana dan nampak tidak penting sepertinya, tapi menurut saya inilah yang diabaikan oleh Mie X dalam menghadapi persaingan. Bila toko pertama mengambil warna merah untuk mereknya, saya sangat menyarankan warna biru menjadi warna yang seharusnya dipakai oleh Mie X tentunya dengan design yang tepat daripada warna hijau dengan background putih yang mungkin tidak akan menarik untuk dipandang mata minimal pada pandangan pertama.

Kedua, design toko. Saya menanyakan hal ini pada pacar saya dan dia menjawab ada tiga kendala. Yang pertama kuno, kedua konsepnya nggak jelas dan ketiga dari sisi tampilan tidak menarik. Saya sendiri kalau boleh jujur ingin mengatakan designnya aneh dan juga tidak menarik. Nah loh, ini tentu sangat berbahaya karena orang sudah mulai bermain dengan persepsi kalau sampai hal ini tidak segera dibenahi saya punya keyakinan bahwa Mie X ini akan ditinggal konsumen biar pun rasanya enak setelah dicoba.

Terakhir, nama merek. Saya hampir lupa ada sesuatu yang unik di toko tersebut, judul tokonya Mie X tapi di dindingnya ada tulisan Kafe XX. Jadi apa ya kira-kira nama merek toko tersebut. Mungkin hal ini tidak menjadi perhatian yang terlalu penting bagi pemilik toko, tapi saya hanya ingin mengingatkan tujuan dari sebuah pemasaran adalah merek dan profit yang sustainable, hal ini mungkin tidak akan ada pengaruh untuk jangka pendek tapi hati-hati untuk jangka panjang, kita tidak akan tahu tantangan, pesaing dan perubahan seperti apa yang akan anda hadapi.

Selain itu, saya juga mengamati toko Mie di tempat pacar saya mengantri.
Saya tidak habis pikir ketika pacar saya cerita mengenai pelayanan di toko Mie yang dia pesan, setelah mengantri cukup lama dan ketika di depan kasir dia harus menuggu sampai tiga menit lebih karena yang melayani sedang menelpon.

Pacar saya sewot bukan kepalang, dia bilang "Gile, Bank aja nggak berani kaya gitu eh nih lagi yang jual makanan". Saya tidak tahu apakah pelayanan tersebut memang lagi benar-benar sangat penting untuk nelpon atau memang ngga dikasih training bagaimana melayani customer dengan baik. Tapi yang pasti pelayan merupakan faktor yang amat sangat penting dalam sebuah bisnis dan kalau sampai hal ini diabaikan, saya pikir hukuman oleh konsumen yang tidak puas akan membuat kita menangis di kemudian hari.

Ah, dasar kurang kerjaan, bukannya menikmati liburan malah mengkritik usaha orang. Yang beginilah mungkin nasib orang yang kerja di bidang iklan.
"I sleep, eat, and ………. With Brand. What ever I think, I think brand".