Kegagalan Trainng
Written by Nurjannah SjamsudinMonday, 10 November 2008 Kegagalan Training
Istilah training adalah latihan, dan dalam pengertian yang luas training itu sendiri di implisit kedalam pengertian pendidikan.
Menurut Otto dan Glaser:
Arti latihan ialah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan kerja seseorang dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi. Latihan membantu pegawai/karyawan dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan dan sikap yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai tujuannya.
Pendidikan ialah suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk didalamnya peningkatan penguasaan teori dan keterampilan memutuskan terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan mencapai tujuan.
Menurut Mondy dan Noe:
Pelatihan (training) meliputi aktivitas-aktivitas yang berfungsi meningkatkan unjuk kerja seseorang dalam pekerjaan yang sedang dijalani atau yang terkait dengan pekerjaannya ini.
Pendidikan (education) mencakup kegiatan-kegiatan yang dise-lenggarakan untuk meningkatkan kompetensi menyeluruh se-seorang dalam arah tertentu dan berada di luar lingkup pekerjaan yang ditanganinya saat ini.
(Sumber: Heidjrahman Ranupandojo dan Suad Husnan (1983 : 69).)
Trainer sendiri artinya orang yang memberikan training / pelatihan / pendidikan kepada orang lain.
II.Tujuan Training
Tujuan training adalah untuk memberikan pelatihan dan pendidikan yang dapat menambah wawasan dan dapat meningkatkan efektifitas karyawan dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya sehingga perusahaan akan lebih diuntungkan.
III.Tahap-tahap dalam pelaksanan training :
1.Bagian HRD mengindentifikasikan kebutuhan training / pelatihan karyawan, kemudian membuat jadwal pelatihan tahunan.
2.Bagian HRD meminta persetujuan atas jadwal pelatihan tahunan yang telah dibuat ke Direktur.
3.Bagian HRD memfasilitasi pelaksanaan training / pelatihan dan melakukan penilaian efektivitas training / pelatihan.
IV.Kegagalan Training
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh ASTD (American Society for Training and Development), diperoleh informasi bahwa terdapat beberapa hal yang dapat mengakibatkan kegagalan training, antara lain :
• Sebesar 20% disebabkan oleh persiapan yang tidak baik, terutama kesiapan peserta untuk mengikuti training.
• Sebesar 10% disebabkan oleh pelaksanaan training yang tidak baik.
• Sebesar 70% disebabkan oleh dukungan implementasi yang tidak baik, dimana manajer atau atasan tidak memberikan perhatian terhadap perkembangan karyawan dan tidak adanya kesempatan untuk mempraktekkan ilmu baru pada pekerjaan yang dijalani.
(Sumber : Artikel Implementasi Training, Google)
V.Solusi Untuk Mengatasi Kegagalan Training
Untuk mengatasi kondisi diatas, banyak ahli yang mengeluarkan teori-teori mengenai langkah yang harus dilakukan untuk menyusun sebuah training yang berhasil. Dari teori-teori tersebut dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan tingkat efektivitas pelaksanaan training, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan sebelum menyusun program training dan pada saat implementasi training.
A. Pada saat penyusunan program training, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
1. Memahami tuntutan dan tingkat kompetensi yang dipersyaratkan dalam posisi atau jabatan.
2. Mengukur kompetensi yang dimiliki karyawan saat ini.
3. Melakukan analisis kesenjangan kompetensi yang ada : kompetensi yang disyaratkan jabatan versus kompetensi yang dimiliki karyawan saat ini.
4. Merancang hal teknis pelaksanaan training : metode, sumber materi, kasus, dan games.
(Sumber : Buku Training dan Development)
B. Sedangkan langkah-langkan pada saat implementasi training adalah :
1. Pengakuan. Langkah ini bertujuan agar peserta yakin bahwa kompetensi yang akan diajarkan ada dan penting untuk bisa menjalankan pekerjaan dengan baik.
2. Pemahaman. Pada langkah ini peserta diajarkan tentang kompetensi baru dan bagaimana mempraktikkannya.
3. Asessment pribadi. Dimana peserta diberikan kesempatan untuk menilai kompetensinya dibandingkan dengan orang yang dianggap memiliki kinerja superior.
4. Praktek keahlian. Peserta mempraktekkan apa yang dipelajari dalam simulasi sebenarnya, dan mengetahui perbedaan kompetensi mereka dengan kompetensi superior.
5. Aplikasi pekerjaan. Pada langkah kelima ini peserta menyusun target/tujuan dan rencana aksi bagaimana mereka memanfaatkan kompetensi tersebut dalam pekerjaan sebenarnya. Adanya penyusunan tujuan, terjadi peningkatan pencapaian dari 5%-20% menjadi 60%-70%, sehingga produktivitas pun ikut naik.
6. Dukungan tindak lanjut. Dukungan ini berupa berbagi informasi dengan pihak lain (termasuk supervisor) tentang pemanfaatan kompetensi tersebut.
(Sumber : Artikel Implementasi Training, Google)
Semoga dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan program training dan langkah-langkah pada saat implementasi, training yang diberikan kepada peserta training dapat lebih dimanfaatkan untuk pekerjaan yang di jalankan sekarang atau yang akan jalankan, sehingga dapat lebih mengefektivitaskan hasil kerjanya.







